Karena diam dapat lebih bermakna dari berkata-kata©

Tulisan terbaru

Kamis, Juni 27, 2013

Iklan Rokok dan Skripsi


Kemarin aku buka-buka skripsi (udah pasti skripsinya orang lain), di situ ketemu surat pernyataan bahwa skripsi tersebut bukan hasil plagiasi. Isi surat pernyataan itu adalah kesedian si pembuat skripsi untuk dicabut gelarnya apabila ia terbukti membajak skripsi orang lain. Wow, serem juga ya.

Memang akhir-akhir ini, pengawasan terhadap aktivitas yang rawan plagiarisme dalam kegiatan akademik diperketat. Kalau dulu aku gak pernah ada ancaman macam begini (at least gak pernah dengar kasusnya, sekarang ditegaskan dengan surat pernyataan di skripsi.

Mahasiswa yang suka ngejiplak hasil karya orang lain tentulah mahasiswa yang gak kreatif (yang nulis blog ini banyak gaya, dia sendiri belum bikin skripsi). Bikin skripsi itu kan, pada dasarnya nge-bahas permasalahan. Dunia kita ini apa gak kurang permasalahan?

Keterbatasan itu bisa memicu kreativitas. Kepepet, contohnya. Udah banyak buku yang ngebahas Power of Kepepet, sampai-sampai aku gak tau lagi siapa sebenarnya yang pertama kali menggunakan istilah itu.

Contoh lain keterbatasan memicu kreativitas adalah iklan rokok. Mungkin Anda semua pernah lihat iklan rokok di televisi sekarang tambah lama tambah bagus. Ada koboy macho yang naik kuda, penjelajah alam, cewek naik helikopter, wah pokoknya macam-macam dah.

Iklan rokok yang begitu bagus konon karena ada aturan yang melarang menampilkan produk rokok tersebut. Pembuat iklannya berusaha menarik perhatian penonton dengan iklan yang kreatif. Saking kreatifnya iklan-iklan tersebut, tidak jarang kita tidak tahu sbenarnya produk apa yang diikankan sampai iklannya berakhir.

Di kepalaku, muncul ide anes yang terinspirasi dari iklan rokok ini. Kalau di iklan rokok tidak boleh menampilkan produknya. Nah, supaya kreatif, mahasiswa dalam penelitiannya juga gak boleh menunujukkan jati dirinya sebagai mahasiswa.. Hahaha..

Kebayang gimana susahnya, penelitian tanpa menunjukkan identitas. Pake identitas aja sulit, apalagi jadi peneliti spionase. Kadang, isi kepalaku ini menyiksaku sendiri. *dan tulisan ini menjadi semakin gak jelas*

,.